Home All Blog Fakta-Fakta Unik Ulos Ragi Hidup Bikin Kamu Bilang Wow

Fakta-Fakta Unik Ulos Ragi Hidup Bikin Kamu Bilang Wow

0 558

Ulos Ragi Hidup ini secara tingkatan satu level dibawah Ulos Jugia. Dikarenakan ulos ini selalu tampil paling utama di setip acara adat batak besar atau kecil membuat persepsi bahwa Ulos Ragi Hidup paling mahal.

Baca juga Jenis Ulos Yang Paling Mahal

Secara umum Ulos Ragi Hidup dapat dipakai pada acara adat Batak baik upacara suka dan duka. Pada jaman dahulu dipakai juga untuk “mangupa tondi” (mengukuhkan semangat) seorang anak yang baru lahir. Ulos ini juga dipakai oleh suhut si habolonan (tuan rumah). Ini yang membedakannya dengan suhut yang lain, yang dalam versi “Dalihan Na Tolu” disebut dongan tubu (satu marga). Konon Ulos Ragi Hidup menunjukkan status sosial dan ekonomi seseorang, dulu hanya raja-raja dan masyarakat menengah keatas yang memakainya.

Dalam system kekeluargaan orang Batak. Kelompok satu marga ( dongan tubu) adalah kelompok “sisada raga-raga sisada somba” terhadap kelompok marga lain. Ada pepatah yang mengatakan “martanda do suhul, marbona sakkalan, marnata do suhut, marnampuna do ugasan”, yang dapat diartikan walaupun pesta itu untuk kepentingan bersama, hak yang punya hajat (suhut sihabolonan) tetap diakui sebagai pengambil kata putus (putusan terakhir). Jadi dengan menggunakan Ulos Ragi Hidup menjadi satu pertanda bahwa yang menggunakannya adalah Suhut atau tuan rumah suatu upacara adat batak.

Dalam pembuatan ulos ragi hidup juga berbeda dengan pembuatan ulos lainnya, keunikannya ulos ini dapat dikerjakan secara gotong royong. Artinya untuk membuat ulos ini melibatkan banyak orang dengan pekerjaan yang berbeda mulai dari awal sampai jadi. Misalnya saja kedua sisi ulos kiri dan kanan (disebut ambi) dikerjakan oleh dua orang. Kepala ulos bagian atas bawah (disebut tinorpa) dikerjakan oleh dua orang pula, nah sedangkan bagian tengah atau badan ulos (disebut tor) dikerjakan satu orang. Bisa dibayangkan untuk menyelesaikan 1 lembar kain ulos di kerjakan oleh 5 orang. Kemudian hasil kerja ke lima orang ini disatukan (disebut diihot) menjadi satu kesatuan yang disebut ulos “Ragi Hidup”.

Tentu timbul pertanyaan mengapa cara pengerjaan pembuatan ulos Ragi Hidup demikian? Faktor inilah yang menjadikan Ulos Ragi Hidup sangat berarti dan mahal. Dahulu kala untuk mengerjakan ulos ini harus selesai dalam waktu tertentu menurut “hatiha” Batak (kalender Batak) pada zamannya. Bila dimulai Artia (hari pertama) selesai di Tula (hari tengah dua puluh).

Fakta lainnya bila siorangtua meninggal dunia, yang memakai ulos ini ialah anak yang sulung sedang yang lainnya memakai ulos “sibolang”. Ulos ini juga sangat baik bila diberikan sebagai ulos “Panggabei” (Ulos Saur Matua) kepada cucu dari anak yang meninggal. Nah pada saat itulah unsur nilai dari ulos Ragi Hidup sama dengan Ulos Jugia.

Juga pada upacara perkawinan Adat Batak, Ulos Ragi Hiduplah yang diberikan sebagai ulos “Pansamot” (untuk orang tua pengantin laki-laki) dan ulos ini tidak bisa diberikan kepada pengantin oleh siapa pun. Menurut informasi di beberapa suku lain seperti Simalungun Ulos Ragi Hidup tidak boleh dipakai oleh kaum wanita.

Fakta lainnya adalah Ulos ini sebagai tanda kepada orangtua yang tidak memiliki anak laki-laki. Jika seorang orang tua (laki-laki) memakai Ulos Pansamot di acara Adat Pernikahan atau Duka (istri meninggal) adalah pertanda bahwa si ayah sudah pernah/ menerima adat atas pernikahan anaknya laki-laki.

NO COMMENTS

Leave a Reply